Kamis, 19 Juli 2012

px panggul luar


BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Proses kehamilan hingga melahirkan bagi setiap wanita adalah sesuatu yang unik sekalgus sacral. Sehingga setiap tahapan sebisa mungkin ingin dirasakan dan dilewati si ibu secara alami,terutama padasaat persalinan. Hanya saja, pada kondisi tertentu seperti panggul ibu yang sempit, demi kebaikan ibu dan janin,jalan oprasi memang menjadi langkah yang bijaksana

B.     Tujuan

1.Untuk memelihat gambaran mengenai keadaan panggul
2.Mendeteksi secara dini adanya kelainan dan kesempitan panggul

C.    Manfaat

1.      Dapat mendeteksi dini masalah kehamilan

2.      Dapat menambah ilmu pengetahuan mahasiswa

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

KAJIAN PUSTAKA

A.    Panggul terdiri atas
1.      Bagian keras yang dibentuk oleh tulang
2.      Bagian yang lunak dibentuk oleh otot – otot dan ligamentum
B.     Bagian Keras Panggul
Tulang panggul terdiri atas empat tulang :
a.       2 tulang pangkal paha (ossa coxae)
b.      1 tulang kelangkang (os sacrum)
c.       1 tulang tungging (os coccygis)
C.    Tulang pangkal paha (ossa coxae) terdiri dari:
1.      Tulang usus (os ilium)
a.      Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan belakang dari panggul.
b.      Bagian atas merupakan pinggir tulang yang tebal yang disebut crista iliaca.
c.       Ujung depan maupun belakang dari crista iliaca menonjol disebut spina iliaca anterior superior dan spina iliaca posterior superior.
d.       Sedikit dibawah spina iliaca anterior superior terdapat tonjolan tulang lagi ialah spina iliaca anterior inferior, sedangkan sebelah bawah spina iliaca posterior superior terdapat spina iliaca posterior inferior.
e.       Dibawah spina iliaca posterior inferior terdapat tekik (lekuk) yang disebut incisura ischiadica mayor.
f.       Pada os ilium terdapat lajur ialah linea innominata (linea terminalis) yang menjadi batas antara panggul besar dan panggul kecil.
2.      Tulang duduk (os ischium)
a.      Terdapat sebelah bawah dari tulang usus
b.      Pinggir belakang berduri disebut Spina Ischiadica
c.       Dibawah spina ischiadica terdapat incisura ischiadica minor.
d.      Pinggir bawah tulang duduk sangat tebal, bagian inilah yang mendukung berat badan kalau kita duduk dan disebut tuber ischiadicum.
3.      Tulang kemaluan (os pubis)
a.      Terdapat sebelah bawah dan depan dari tulang usus. Dengan tulang duduk, tulang ini membatasi sebuah lubang dalam tulang panggul yang disebut foramen obturatorium.
b.      Tangkai tulang kemaluan yang berhubungan dengan tulang usus disebut rasmus superior ossis pubis.
c.       Sedangkan yang berhubungan dengan tulang duduk disebut rasmus inferior ossis pubis.
d.      Rasmus inferior kiri dan kanan membentuk arcus pubis.
4.      Tulang kelangkang (os sacrum)
a.      Berbentuk segitiga
b.      Melebar diatas dan meruncing kebawah
c.       Terletak sebelah belakang antara kedua pangkal paha
d.      Terdiri dari 5 ruas tulang bersenyawa
e.       Permukaan depannya cekung dari atas kebawah maupun dari samping ke samping
f.       Kiri dan kanan dari garis tengah nampak lima buah lobang disebut foramina sacralia anteriora.
g.      Lubang ini dilalui urat –urat syaraf yang akan membentuk flexus dan pembuluh darah kecil
h.       Flexus sacralis ini melayani tungkai, oleh karena itu kadang-kadang penderita merasa nyeri atau kejang di kaki, kalau flexus sacralis ini tertekan pada waktu kepala turun ke dalam rongga panggul.
i.        Permukaan belakang tulang kelangkang gembung dan kasar. Di garis tengahnya terdapat deretan duri disebut crista sacralis
j.        Ke atas tulang kelangkang berhubungan dengan ruas ke 5 tulang pinggang
k.      Bagian atas dari sacrum yang mengadakan perhubungan ini menonjol ke depan disebut promontorium.
5.      Tulang tungging (os coxigis)
a.      Berbentuk segitiga dan terdiri atas 3-5 ruas bersatu
b.      Pada persalinan ujung tulang tungging dapat ditolak sedikit ke belakang, hingga ukuran pintu bawah panggul bertambah besar
6.      Ruang Panggul (Pelvis Cavity)
a.      Pelvis major (false pelvis)
b.      Pelvis minor (true pelvis) Pevis major terletak di atas linea terminalis yang di bawah disebut pelvis minor.


7.      Pintu Panggul
a.      Pintu atas panggul (PAP) = Disebut Inlet dibatasi oleh promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis.
b.      Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadica, disebut midlet
c.        Pintu Bawah Panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis, disebut outlet
d.      Ruang panggul yang sebenarnya (pelvis cavity) berada antara inlet dan outlet.
8.       Inklinasi panggul / miring panggul
yaitu sudut antara pintu atas panggul dengan bidang sejajar tanah, pada wanita yang berdiri sudut ini 55 derajad.
9.      Menentukan ukuran panggul
Ukuran panggul dapat ditentukan secara:
a.       Klinik (pelvimetri klinik)
b.      Rontgen pelvimetri
·      Pelvimetri Klinik
a.      Pintu atas panggul
              Ukuran terpenting dari pintu atas panggul adalah konjugata vera yang dapat diukur secara tidak langsung yaitu dengan mengukur konjugata diagonalis dengan pemeriksaan dalam: 1,5 – 2 cm (CV = CD – 1,5)
              Pada panggul yang normal promontorium tidak dapat diraba dengan pemeriksaan dalam karena konjugata diagonalis cukup panjang. Sedangkan pada panggul yang sempit promotorium dapat diraba.
Pintu atas panggul dianggap normal bila:
a.    CD > 11,5 cm
b.   Multigravida dengan riwayat obstetric yang baik
c.     Pada primigravida setelah kehamilan 36 minggu, kepala sudah masuk pintu atas panggul
Ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul
a.    Pemeriksaan luar: Leopold IV divergen
b.   Pemeriksaan dalam:Jarak bidang pintu atas panggul sampai spina iskhiadika adalah 5 cm, jarak bidang biparietal adalah 3-4 cm. Maka jika bagian terendah kepala sudah mencapai spina iskhiadika atau lebih rendah, berarti ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul.
10.  Ukuran – ukuran panggul
      Ukuran-ukuran luar tak dapat dipergunakan untuk penilaian,apakah persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak. Walaupun begitu ukuran-ukuran luar dapat memberikan petunjuk pada kita akan kemungkinan panggul sempit.
Ukuran luar yang terpenting ialah:
a.       Distantia spinarum :
Jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan (Ind. 23, Er. 26), kurang lebih 24 – 26 cm
b.      Distantia cristarum :
Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kira (Ind. 26, Er. 29), kurang lebih 28 – 30 cm.
c.       Conjugata externa (Baudeloque) :
Jarak antara pinggir atas symphysis dan ujung prosessus spinosus ruas tulang lumbal ke-V (Ind. 18, Er. 20), 18 cm.
Ukuran lingkar panggul :
Dari pinggir atas symphysis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat – tempat yang sama di pihak yang lain (Ind. 80, Er. 90), kurang lebih 10,5 cm.
Ukuran dalam panggul :
      Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, linea inniminata, dan pinggir atas simfisis pubis
a.       konjugata vera : dengan periksa dalam diperoleh konjugata diagonalis 10,5-11 cm
b.      konjugata transversa 12-13 cm
c.       konjugata obliqua 13 cm
d.      konjugata obstetrica adalah jarak bagian tengah simfisis ke promontorium
11.  Jenis Panggul
      Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk pintu atas panggul, ada 4 bentuk pokok jenis panggul
a.       Ginekoid : paling ideal, panggul perempuan, diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa bulat : 45%
b.      Android : panggul pria, PAP segitiga, diameter transversa dekat dengan sacrum. segitiga : 15%
c.       Antropoid : agak lonjong seperti telur, diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa.
d.      Platipeloid : picak, diameter transversa lebih besar daripada diameter anteroposterior, menyempit arah muka belakang : 5%
12.  Perbedaan bentuk panggul pria dan wanita
a.       Pada wanita, dinding pelvis spurium dangkal, SIAS menghadap ke ventral. Pada pria, dinding pelvis spurium tajam / curam, SIAS menghadap ke medial.
b.      Pada wanita, apertura pelvis superior berbentuk oval. Pada pria, apertura pelvis superior berbentuk heart-shaped, lengkung, dengan promontorium os sacrum menonjol ke anterior.
c.       Pada wanita, pelvis verum merupakan segmen pendek suatu kerucut panjang. Pada pria, pelvis verum merupakan segmen panjang suatu kerucut pendek.
d.      Pada wanita, ukuran-ukuran diameter rongga panggul lebih besar (perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5 cm) dibandingkan ukuran-ukuran diameter rongga panggul pria.
e.       Pada wanita, apertura pelvis inferior berbentuk bundar, diameter lebih besar. Pada pria, apertura pelvis inferior berbentuk lonjong dan kecil.
f.       Pada wanita, angulus subpubicus adalah sudut lebar / besar. Pada pria, angulus subpubicus merupakan sudut tajam / kecil.
13.  Sumbu Panggul
Sumbu panggul adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah ruang panggul yang melengkung ke depan (sumbu Carus)
Bidang-bidang :
a.       Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium
b.      Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis.
c.       Bidang Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri.
d.      Bidang Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis
14.  Bagian Lunak Panggul
      Terdiri atas otot, ligamentum dan fascia, yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi panggul sebelah bawah (dasar panggul)
a.       Lapisan luar.
·      M.sfingter ani ekternus, yang mengelilingi anus.
·      M. Bulbokavernosus, yang mengelilingi vulva.
·      M. Transversus parinea suferfisialis.
b.      Lapisan tengah
·      M. Transversus parinea profundus.
·      M. Stingfer uretra.
c.       Lapisan dalam (diafragma pelvis)
·      M. Pubokoksigeus
·      M. Iliokoksigeus.
·      M. Koksigeus

15.  Alat Dan Bahan
1)   Pelvimetri klinik
2)   Metlin
3)   Phantom panggul










KESIMPULAN
1)      Panggul wanita terdiri dari panggul besar ( Pelvik Mayor ) dan panggul kecil (Pelvik Minor ). Panggul besar berfungsi menyangga isi abdomen, sedangkan panggul kecil berfungsi membentuk jalan lahir dan tempat alat genitalia.
2)      Menurut Caldwell-Moloy ada 4 bentuk panggul yaitu :
    1. Panggul Ginekoid
    2. Panggul Android
    3. Panggul Antropoid
    4. Panggul Platipeloid
















DAFTAR PUSTAKA

1. Winkjosastro. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta;2002.
2. Cunningham. Obstetric Williams. penerbit buku kedokteran ECG, Jakarta;2006.
3. IBG Manuaba dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta;2006
4. Salmah, dkk. Asuhan kebidanan antenatal EGC. Jakarta;2006
5. Varney. Varney midwifery. Jakarta;1997.
6. Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
http://bidanshop.blogspot.com/2010/04/panggul-wanita-bidang-dan-ukurannya.html

posisi meneran



B AB 1


A.     LATAR  BELAKANG
Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama persalinan dan kelahiran penting untuk mengikutsertakan suami,orang tua atau siapapun yang diminta ibu untuk mendampingi,saat iya membutuhkan perhatian dan dukungan. Tentramkanhati ibu selama kala II persalinan.Berikan bimbingan dan bantuan jika memang diperlukan. Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran. Saat pembukaan lengkap jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila ada dorongan kuat untuk meneran.Janganmenganjurkan untuk meneran berkepanjangandan menahan napas.Anjurkan ibu untuk beristirahat dan berkontraksi.
Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan. Kadang-kadang kala II persalinan menimbulkan rasa kuatir pada ibu.Berikan rasa aman,semangat dan tentramkanhati ibu selama proses persalinan Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam asuhan ibu.,ereka dapat membantu ibu untuk berganti posisi,melakukan pijatan,memberikan minuman dan makanan,berbicara dengan ibu serta memberikan semangat selama persalinan bayinya. Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya.Jelaskan proses kelahiran dan kemajuan persalinan pada ibu dan keluarganya.
B.     TUJUAN
1.      Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mendapat ilmu pengetahuan dan dapat mengaplikasikan tentang berbagai macam posisi meneran dalam persalinan.
2.      Tujuan Umum
Agar bidan mendapat ilmu pengetahuan tentang beberapa macam posisi meneran dan mengaplikasikannya langsung agar pasien mendapat kenyamanan sesuai dengan keinginannya.




C.     MANFAAT
Memberikan informasi adanya variasi posisi meneran dalam persalinan karena selama ini banyak ibu hamil yang beranggapan posisi melahirkan hanya berbaring (litotomi) atau setengah duduk. Padahal nenek moyang dengan segala kearifan lokalnya mempunyai kebiasaan melahirkan dengan cara jongkok atau berdiri. Semua posisi ada kelebihan dan kekurangannya. Anda yang sedang bersiap melahirkan bisa memilih salah satu di antaranya, dengan mengonsultasikannya terlebih dulu pada dokter yang akan membantu persalinan.




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Berikut adalah lima pilihan posisi melahirkan (selain berbaring), disarikan dari buku 9 Bulan yang Penuh Keajaiban, karya Annia Kissanti:
1.      Setengah duduk.
Posisi setengah duduk juga posisi melahirkan yang umum diterapkan di berbagai rumah sakit atau klinik bersalin di Indonesia. Posisi ini mengharuskan ibu duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping.


 







Keuntungan: Posisi ini membuat ibu merasa nyaman. Sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh untuk bisa keluar lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin berlangsung optimal.
       
Kekurangan: Posisi ini bisa menyebabkan keluhan pegal di punggung dan kelelahan, apalagi kalau proses persalinannya lama.

2.      Lateral (miring).
 Posisi ini mengharuskan ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan. Salah satu kaki diangkat sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Biasa dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat. Normalnya posisi ubun-ubun bayi berada di depan jalan lahir, menjadi tidak normal bila posisi ubun-ubun berada di belakang atau samping. Miring ke kiri atau ke kanan tergantung posisi ubun-ubun bayi. Jika di kanan, ibu diminta miring ke kanan dengan harapan bayinya akan memutar. Posisi ini juga bisa digunakan bila persalinan berlangsung lama dan ibu sudah kelelahan dengan posisi lainnya.

 



Keuntungan: Peredaran darah balik ibu mengalir lancar. Pengiriman oksigen dalam darah ibu ke janin melalui plasenta tidak terganggu. Karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan berlangsung perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman.
Kekurangan: Posisi ini membuat dokter atau bidan sedikit kesulitan membantu proses persalinan. Kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan. Bila harus melakukan episiotomi pun posisinya lebih sulit.

3.      Berdiri/Setengah jongkok.

Dalam satu kesempatan, dr Judi J. Endjun, SpOG, ahli kebidanan dan kandungan bercerita, saat PTT di Timor-Timur (sekarang Timor Leste), ia dibuat tertegun dengan cara wanita sana melahirkan. Ia menyaksikan, sang suami yang istrinya akan melahirkan membakar kayu hingga menjadi bubuk abu, lalu abu itu ditabur di atas lantai rumah. Kemudian dua buah kain digantungkan di atas rumah, tepat di atas abu yang ditebar tadi. Si ibu berpegangan pada kain, dan tak perlu menunggu lama, si bayi langsung lahir dan “mendarat” di atas abu hangat yang steril. Sebuah kearifan lokal yang membuatnya geleng-geleng kepala. Tak hanya di Timor, beberapa suku di China pun ternyata mempunyai kebiasaan yang sama, yakni melahirkan dengan berdiri.



 




Keuntungan: Posisi ini selaras dengan gaya gravitasi bumi. Sehingga, kekuatan mengejan ibu jauh lebih kuat. Memang, pada posisi berdiri jalan lahir langsung lurus dengan tanah. Seolah-olah ibu menekan tanah dengan kekuatan seluruh tubuhnya. Sehingga dibutuhkan kesiapan semua pihak yang membantu persalinan, jangan sampai bayi “meluncur” terlalu cepat hingga cedera. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh bayi.
Kekurangan: Dokter atau bidan sedikit kesulitan bila harus membantu persalinan melalui episiotomi atau memantau perkembangan pembukaan.
4.      Jongkok.

Beberapa suku di Indonesia Timur, mulai Lombok Timur hingga Papua, wanitanya mempunyai kebiasaan melahirkan dengan cara jongkok.
Keuntungan: Posisi ini menguntungkan karena pengaruh gravitasi tubuh, ibu tak harus bersusah-payah mengejan. Bayi akan keluar lewat jalan lahir dengan sendirinya.
Kekurangan: Bila tidak disiapkan dengan baik, posisi jongkok amat berpeluang membuat kepala bayi cedera, sebab bayi bisa “meluncur” dengan cepat. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh bayi. Dokter atau bidan pun sedikit kesulitan bila harus membantu persalinan melalui episiotomi atau memantau perkembangan pembukaan.

5.      Dalam air.

Bisa jadi di Indoensia melahirkan dalam air termasuk hal baru, tetapi di Eropa Timur, terutama di Rusia, cara melahirkan seperti ini sudah sangat lazim. Sampai-sampai muncul anekdot, keunggulan atlet renang Eropa Timur antara lain terbentuk karena sejak lahir bayi-bayi di sana sudah “dipaksa” latihan berenang.
Ketika ibu hamil sudah masuk bukaan 5-6, dengan dibantu dokter atau perawat, ibu hamil dimasukkan ke kolam khusus yang dipastikan kebersihan dan sterilisasinya. Temperatur air harus sesuai dengan suhu tubuh ibu, tidak kurang atau lebih, untuk mencegah terjadinya temperature shock saat bayi meluncur ke air.
Keuntungan: Kelebihan utama melahirkan di air adalah ibu sangat rileks, karena adanya rileksasi semua otot tubuh, terutama otot-otot yang terkait dengan proses persalinan. Mengejan menjadi lebih mudah dan tidak merasakan sakit seperti proses persalinan lainnya. Jangan khawatir bayi akan “tenggelam” begitu lahir, sebab selama dalam kandungan pun sejatinya bayi hidup di dalam air ketuban ibu.
Kekurangan: Risiko air tertelan oleh bayi sangat besar, karena itu proses ini membutuhkan kesiapan semua pihak, baik peralatan yang digunakan maupun dokter kandungan, perawat, atau dokter anak yang langsung mengecek keadaan bayi begitu lahir. Bila prosesnya berlangsung terlalu lama, ibu bisa mengalami hipotermia atau suhu tubuh terlalu rendah.










KESIMPULAN
Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih sendiri posisi persalinan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan bidannya sendiri. Dengan kebebasan untuk memutuskan  posisi yang dipilihnya, ibu akan lebih merasa aman.



DAFTAR PUSTAKA
·         Coad, Jane dan Melvyn Dunstall. (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC
·         Saifudin, Abdul Bari. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP,       
·          Affandi, Biran, dkk, (2007), Asuhan Persalinan Normal, Asuhan Essensial   Persalinan (Edisi Revisi), Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik,
·         Bobak, Lawdermilk, Jensen, (2005), Keperawatan Maternitas edisi 4,
·         https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjKV3boJBLW7aNXF1hf54eoy3oopQknHaXyGZYJyGMrEVtsyQOL5XzrzJq_11zB2eqcbv3OKmi4JTO-bOqwdA3ZsiWrRjGOZWcLzBOOYIwZlA8A3r5LjfEJ2gP5LDM-DKFhK_C1MwZX00/s1600-h/Picture1.jpg